Our Networks krazymarket.com dailysocial.net bolalob.com infokost.net

Persela Kritik Keras Kebijakan Baru PSSI

Written By redpark oneagain on Senin, 08 Agustus 2011 | 10.58

LAMONGAN – Persela Lamongan menganggap aturan yang ditetapkan PSSI belum sepenuhnya berpihak pada klub. Persela menilai misi menciptakan sepak bola profesional harus dilakukan secara bertahap sehingga klub tak kalang kabut mempersiapkan diri dalam waktu yang minim.


Persoalan yang menurut Persela paling kentara adalah pemberlakuan participation deposit dan aturan kontrak pemain minimal tiga tahun.Bagi klub yang tak lagi disubsidi APBD,deposit Rp5 miliar sangat berat. Apalagi,Persela termasuk klub yang masih belajar mandiri.

Kondisi ini makin membuat Persela kecewa karena tak ada solusi cerdas dari PSSI terkait persoalan finansial.”Bagi kami, yang baru mulai menata keuangan mandiri, itu sangat berat dan terlalu dipaksakan. Sementara PSSI seakan tidak peduli dari mana klub mendapatkan uang,”kata Asisten Manajer Persela Yuhronur Efendi.

Tanpa didukung APBD,klub berjuluk Laskar Joko Tingkir ini harus mati-matian menghidupi kinerja mereka.Namun,saat rencana menyusun klub mandiri belum berjalan,PSSI sudah meminta deposit sebesar Rp5 miliar.Yuhronur yakin hal yang dirasakan Persela juga dirasakan banyak klub lain.

Lebih jauh,jika klub Liga Primer Indonesia (LPI) masih mendapatkan sokongan dari konsorsium untuk membayar participation deposit,menurut dia,juga tidak adil.Sebab di sisi lain,klub Indonesia Super League (ISL) dibiarkan mencari dana dengan caranya sendiri.

”Baru bisa dikatakan profesional,kalau deposit tersebut murni penghasilan atau keuntungan klub.Kalau hanya disuruh menyediakan uang tanpa tahu dari mana sumbernya,saya kira itu bukan sebuah parameter yang bagus untuk klub profesional, ”tandasnya.

Sementara itu,untuk kontrak pemain minimal tiga tahun,klub juga harus mengeluarkan dana dalam jumlah yang tak sedikit.Apalagi,jika memakai sistem 25% bayar di muka.”Ini aneh.Seharusnya dilakukan bertahap dari aspek termudah dulu,baru menapak ke tahap lebih sulit. Aturan tak bisa dipaksakan seperti ini,” tuturYuhronur.

Mengenai keputusan PSSI menyamaratakan klub ISL dan LPI,juga masih menjadi ganjalan bagi Persela. Kendati nantinya tim LPI juga harus menjalani verifikasi dan bisa saja tak layak menjadi klub profesional,itu tetap dianggap tak sesuai dengan filosofi kompetisi.

Menurut dia,seharusnya klub-klub LPI merangkak dari bawah untuk bisa merasakan kompetisi tertinggi dan perjuangan itu pernah dialami Persela. Laskar Joko Tingkir membutuhkan waktu delapan tahun untuk merasakan ketatnya ISL dan memulainya dari Divisi II.Pada 2001,Persela promosi ke Divisi I dan ke Divisi Utama semusim berikutnya.

”Itu perjuangan yang sangat sulit,butuh waktu dan biaya yang tidak sedikit.Kalau saat ini ada klub LPI yang dibentuk beberapa bulan lalu kemudian statusnya sama seperti kami,rasanya tidak adil,” tandasYuhronur. Karena itu,Persela tidak terlalu euforia menghadapi proses verifikasi menuju liga profesional Oktober nanti.

Menurut dia, semua kelengkapan sudah disiapkan dan manajemen berharap tak ada masalah dalam verifikasi nanti.Sebab,dulu Persela juga pernah menjalani verifikasi yang sama

0 komentar:

Posting Komentar