JAKARTA – Pemusatan latihan (training camp/TC) timnas Indonesia yang akan bertarung pada lanjutan Pra-Piala Dunia (PPD) 2014 terkendala. Kali ini persoalan penerangan di stadion yang mengganggu rencana awal Wim Rijsbergen.
Minimnya lampu penerangan di Stadion Krakatau Steel,Cilegon,Banten,membuat TC tidak maksimal.Latihan yang semula akan dilakukan dalam dua sesi,sebelum dan sesudah buka puasa,gagal dilaksanakan. Firman Utina dkk hanya latihan sore atau sebelum buka puasa. Pada latihan perdana Jumat (5/8),timnas melakoni dua sesi latihan.
Namun,latihan malam setelah buka puasa tak maksimal karena penerangan stadion yang kurang. Mulai Sabtu (6/8) pun latihan hanya sekali. Tentu intensitas latihan sekali membuat persiapan terancam tak matang. Efek dari masalah ini,pola latihan untuk timnas pun harus dikaji ulang.
Padahal, sebelumnya konsep latihan sudah disesuaikan dengan ibadah puasa yang dijalankan sejumlah pemain,latihan malam pun jadi solusinya.Kendati demikian, manajemen timnas siap melakukan perubahan lokasi TC.
”Kami telah meminta pengelola stadion membantu menambah penerangan.Kami masih menunggu untuk seminggu ke depan. Kalau memang tidak ada,mungkin kami akan keluar dari Cilegon.Pilihannya,TC bisa saja kembali ke Jakarta,”kata Manajer Timnas Ferry Kodrat.
Pernyataan dari Ferry ini menunjukkan kalau ada ketidaksiapan manajemen timnas dalam menyiapkan sarana berlatih.Jika kondisi ini terus berlanjut,bukan hanya masa latihan timnas jadi tidak efektif tapi cedera menghantui pemain.
”Lampunya bermasalah. Sebenarnya pada latihan perdana sudah dicoba,tapi jika lampunya seperti itu,pemain bisa mudah cedera.Rencananya,TC akan segera diusahakan untuk lampu.Jika terealisasi, kami baru bisa latihan malam.Jika belum, hal itu tidak mungkin dipaksakan,”tutur fisioterapis timnas Mathias Ibo.
Potensi cedera tentu jadi satu hal yang sangat dihindari.Karena itu,Mathias menilai lebih baik tidak melakoni sesi latihan malam dengan kondisi penerangan yang minimalis. Namun,pria lulusan University College Physiotherapy Thim van der Laan, Utrecht, Belanda,menyatakan TC lebih baik dalam dua sesi latihan.
”Yang terbaik memang menjalani latihan malam.Jadi,sore pukul 17.00 WIB latihan dimulai dan hanya diisi pemanasan serta latihan ringan sampai pemain berbuka puasa.Setelah setengah jam,baru pemain bisa digenjot sampai satu setengah jam ke depan,”lanjut pria asal Malang ini.
”Atau kalau tidak,latihan pada pukul 21.00 sampai 23.00 WIB.Tapi,latihan tersebut tidak perlu setiap hari,cukup tiga kali selama satu pekan.Saya rasa itu sudah cukup untuk masa recoverypemain,”lanjut Mathias.
Selain masalah penerangan yang mengganggu,rencana timnas berlatih di pantai pun sepertinya akan sulit terlaksana. Pantai Anyer sebelumnya dipilih menjadi tempat skuad Merah Putih berlatih.Namun, akses jalan yang rusak ditambah waktu tempuh hingga dua jam perjalanan dari hotel dikhawatirkan akan membuat kondisi pemain terganggu.
Latihan di pantai jadi satu alasan timnas memilih untuk menjalani TC di Cilegon. Masalah kondisi fisik pemain yang cepat drop dan membuat hilangnya konsentrasi, rencananya akan diperbaiki saat menjalani sesi latihan pantai.Sayang,rencana tersebut belum bisa dilaksanakan karena terkendala masalah teknis.
0 komentar:
Posting Komentar